Lima Cara Sukseskan Inisiatif Lean Six Sigma di Perusahaan

By on June 15, 2012

Sejauh ini, kita telah sering membahas mengenai metodologi dan toolsPareto Chart. Read more ... » Lean Six SigmaPlan Do Check Act (PDCA). Read more ... » yang mengarah kepada operational excellence dalam organisasi. Perusahaan dan organisasi manapun pasti memiliki visi yang menggambarkan business process exellence dan ingin melakukan continuous improvement. Namun ternyata, setelah semua persiapan dan perencanaan dilakukan dengan matang, banyak diantara organisasi dan perusahaan tersebut gagal memaksimalkan hasil dari usaha improvementGood Practice: The Chicago Tribunne Daur Ulang Sisa Produksi dan Menghemat Biaya. Read more ... » yang telah dilakukan.

Para ahli di bidang Lean Six Sigma menemukan bahwa hal itu disebabkan karena dalam menindaklanjuti inisiatif businessLangkah Menuju Operational Excellence: Retailer Makanan Inggris Manfaatkan Limbah untuk Berhemat. Read more ... » improvement, kita seringkali melupakan salah satu faktor penting yang dapat menjadi penentu kesuksesan improvement; faktor tersebut tak lain adalah: sumber daya manusia.

ToyotaSejarah Lean Manufacturing: Control Chart Toyota Pada Dekade 1950-an. Read more ... », sebagai pengagas dan penganut Lean manufacturing, sangat menyadari hal ini. Namun mereka juga memahami bahwa kualitas improvement tidak berbanding lurus dengan ‘kualitas’ individu. Bukan berarti mereka tidak mementingkan individu yang berkualitas, namun mereka menghindari ‘kualitas’ yang tidak sejalan dengan budaya mereka sendiri. Karena itulah Toyota lebih memilih untuk merekrut SDM yang masih ‘hijau’ ketimbang mereka yang sudah berkarakter dan berpengalaman, dengan tujuan untuk membentuk dan men-develop SDM tersebut sesuai dengan filosofi dan budaya Toyota.

Dalam tulisan yang dibuat oleh seorang pakar Lean Manufacturing di bidang productivity dan quality improvement, Darren Dolcemascolo, untuk membentuk budaya improvement tersebut, perusahaan-perusahaan sekaliber Toyota memiliki 5 cara yang efektif. Lima cara tersebut yaitu: melakukan pelatihan (training), kebijakan anti-PHK, incentives/metrics, menciptakan team environment, dan empowerment. Mari kita bahas satu persatu:

  1. Training

Seluruh karyawan baru wajib dilatih dalam sistem business improvement (misalnya Lean dan Six Sigma) yang dijalankan dalam perusahaan. Karyawan harus mendapatkan training yang sejalan dengan pekerjaannya, dan berlangsung secara berkesinambungan.  Beberapa sesi training ini akan berlangsung selama KaizenKaizen di Amazon.com: Green Strategy dan Efisiensi. Read more ... » events. Toyota melatih karyawan mereka dalam sistem ini; hal tersebut dapat disebut tahap orientasi karyawan.

  1. Kebijakan Anti-PHK

Dalam organisasi yang sukses, khususnya yang mengadopsi metodologi Lean Six Sigma, pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan mereka karena kesuksesan business improvement yang telah dijalankan. Ketika pekerja ‘curiga’ bahwa dengan suksesnya improvement tersebut akan menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan, mustahil bagi mereka untuk berkontribusi secara maksimal.

Ada sebuah perusahaan manufakturOperational Excellence di Industri Manufaktur: Mengejar Bisnis yang Eco-Friendly demi Sukses yang Sustainable. Read more ... » di AS, dimana Kaizen events dijalankan hampir setiap minggu. Mereka menjalankan program Lean Six Sigma yang sustainableOperational Excellence di Industri Manufaktur: Mengejar Bisnis yang Eco-Friendly demi Sukses yang Sustainable. Read more ... ». Kebutuhan tenaga kerja berkurang dalam setiap aktifitas kaizen; namun individu yang posisinya ‘tergantikan’ tidak lantas di-PHK. Mereka ditempatkan di departemen continuous improvement, dimana mereka dapat berkontribusi lebih lanjut dalam proses improvement perusahaan di masa depan. Ketika kebutuhan meningkat, mereka diposisikan kembali pada fungsi asal mereka. Ingatlah bahwa strategi pertumbuhan haruslah menjadi bagian dalam Lean, karena Lean bersifat ‘membebaskan’ sumber daya.

  1. Insentif / Matriks

Setiap keberhasilan improvement harus didukung oleh adanya insentif dalam setiap level. Operator lapangan harus mendapatkan insentif untuk mendorongnya membuat sugesti improvement dan mengimplementasikannya.  ManajemenBenarkah Para Manajer Tidak Ingin Berinovasi?. Read more ... » dan supporting staff harus mendapat insentif untuk menciptakan produktifitas dan kualitas improvement melalui kaizen.

Kegagalan yang dialami perusahaan biasanya karena mereka mengukur dan memberikan insentif kepada karyawan dengan hanya berbasis kepada satu standar (seperti misalnya mengirim barang), tapi perusahaan mengharapkan adanya continuous improvement. Hal ini tidak akan berjalan, karena insentif harus sejalan dengan ekspektasi. Jika perusahaan menginginkan continuous improvement, perusahaan harus bersedia memberikan insentif. Bentuk insentif bervariasi, mulai dari penghargaan (recognition) atas kinerja hingga bonus berupa uang.

  1. TeamKisah Inspiratif: Insting Seekor Angsa. Read more ... » Environment

Teamwork adalah hal penting, namun seringkali disalahpahami. Pernyataan berikut ini dikeluarkan oleh seorang eksekutif di Toyota Amerika, mengenai teamwork:

“Rasa hormat terhadap orang lain dan tantangan untuk terus-menerus berbuat lebih__apakah keduanya adalah hal yang kontradiktif? Menghormati orang lain artinya adalah mengormati pemikiran dan kapabilitas mereka. Anda tidak mengharapkan mereka untuk membuang waktu. Anda menghormati kemampuan mereka. Orang Amerika biasanya berpikir bahwa teamwork adalah ‘Saya menyukai Anda dan Anda menyukai Saya’. Saling menghormati sesunggungnya adalah saya mempercayai dan menghormati karena Anda akan melakukan pekerjaan dengan sangat baik dan karenanya akan membawa sukses bagi kita semua sebagai sebuah organisasi. Tidak hanya bahwa kita saling menyukai satu sama lain.“ (The Toyota Way by Jeffrey Liker, page 184)

Di Toyota, setiap level dalam organisasi selalu dihormati; setiap bagian tim memiliki pekerjaan tersendiri yang akan memberikan kontribusi kepada sukses perusahaan. Sebagai tambahan, ide dan pemikiran setiap orang juga dihormati.

Dalam perusahaan yang mengadopsi metode dan tools Lean Six Sigma, sering digunakan metode team-improvement yang digagas oleh Belbin, yaitu Team Role Belbin.

  1. Empowerment

Empowerment berarti pemberdayaan. Sebuah organisasi yang menjalankan Lean Six Sigma harus membentuk karyawannya agar mampu membuat improvement. Seringkali, program motivasi dan sugesti gagal karena karyawan ‘dipaksa’ untuk mengimplementasikan ‘pemikiran orang lain’.  Salah satu elemen yang paling sering diabaikan dalam inisiatif Lean Six Sigma adalah empowering employees. Padahal sesungguhnya karyawan memiliki kebutuhan untuk mengeluarkan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri.

Bila perusahaan mampu membangun budaya continuous improvement yang dijelaskan diatas, maka operational excellencePlan Do Check Act (PDCA). Read more ... » akan lebih mudah untuk dicapai. Sebagai bonus pendukungnya, tahapan diatas akan membantu suksesnya Kaizen events dalam operasional organisasi.’

Jadi kesimpulannya, karyawan, yang merupakan faktor penting dalam mencapai operational excellence dengan Lean Six Sigma, haruslah:

  • Mendapatkan insentif yang sepadan dengan harapan perusahaan akan kinerja mereka.
  • Mendapatkan training yang diperlukan.
  • Tidak perlu merasa khawatir akan kehilangan pekerjaan.
  • Percaya bahwa mereka adalah aset penting bagi perusahaan dalam membawa kesuksesan.
  • Percaya bahwa ide-ide mereka dihormati dan diperlukan.

Jika hal-hal tersebut telah terpenuhi, kemunginan sukses karyawan dan sukses perusahaan akan semakin besar.

3 Comments

  1. Pingback: Commitment to Improvement and Innovation: Perjalanan Apple Menuju Puncak Kesuksesan - Majalah Shift Indonesia | Majalah Shift Indonesia

  2. Pingback: Continous Improvement di Indosat melalui Pelatihan Lean Six Sigma Yellow Belt - Majalah Shift Indonesia | Majalah Shift Indonesia

  3. Pingback: Memahami Makna “Kualitas” Sebelum Menjalankan Program Quality Improvement | Majalah Shift Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>